Stop Bullying!!!

Dhiya Ulhaq

Bullying merupakan suatu perilaku penindasan, mengejek, mengolok-olok atau mencela yang dilakukan seseorang atau kelompok kepada orang lain secara terus menerus dengan tujuan untuk menyakiti pribadi seseorang. Bullying juga dikenal dengan masalah sosial, di mana perilaku ini tidak hanya marak terjadi di masyarakat saja bahkan sampai menyebar luas di dunia pendidikan. Perilaku ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor ekonomi, dan faktor sosial. Banyak dari mereka yang menjadi korban bullying dikarenakan terlalu introvert.

Pelaku bullying melakukan perilaku tersebut tidak memandang umur. Terkadang ia melakukannya dengan saudara kandung, teman sebaya, siswa ke guru bahkan ia bisa melakukannya dengan orang tuanya sendiri. Padahal larangan untuk mencela atau mengolok-olok itu sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 11. Namun banyak sekali yang tidak memperhatikan dan menghiraukan dampak buruk dari perilaku ini. Perlu dipahami bahwa adanya perilaku ini dapat membawa pengaruh buruk terhadap fisik maupun psikis bagi korbannya. Ia akan mengalami depresi, merendahnya kepercayaan diri, dan bahkan melakukan hal-hal yang fatal seperti bunuh diri.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Ateis dan Agnostik Beragama Semakin Menggila

Semakin berkembangnya zaman, kasus ini tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata saja bahkan banyak dari mereka yang melakukan perilaku tersebut di dunia maya. Menurut sebuah badan amal anti penindasan Ditch the Label pada tahun 2016, mereka mensurvei kepada 8.850 responden yang berusia 12 hingga 20 tahun dengan hasil penelitian bahwa 14 persen pelaku bullying pada awalnya adalah korban bullying itu sendiri. Oleh karena itu, kasus bullying terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya di Indonesia, di Australia, Estonia, Russia dan banyak lagi negara lain yang mengalami peningkatan kasus ini. Sebuah kasus yang harus diatasi secara bersama-sama.

Sebagai anak muda di era milenial ini, sebaiknya kita dapat mengurangi dan memutus mata rantai kasus ini seperti melakukan kegiatan yang positif, menjalin pertemanan dengan banyak orang, tumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan prestasi. Jika seseorang yang sudah terlanjur menjadi salah satu korban bullying, sseharusnya sudah seharusnya hal tersebut dijadikan sebagai jalan pembuktian bahwa apa yang mereka ejek itu tidaklah benar, sehingga memacu untuk menuju kesuksesan di masa depan.

 

Dhiya Ulhaq, Mahasiswi Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

006289