Menunggu

Fatah Malangare 

“Stasiun kerap jadi museum, Hanna!”

“Haruskah kita abadikan sesuatu!” Balas Hanna.

“Kurasa tidak, setiap yang datang sudah pasti menyisakan kenangan. Lebih dari cukup tiga hari bersamamu.”

Faqih memperbaiki duduknya sambil menghembuskan nafas kencang-kencang, seakan melepas beban yang begitu berat.

Hanna diam. Ia menatap kosong hilir mudik orang-orang di depannya, berjalan cepat seperti dikejar waktu.

“Aku yakin, setiap orang di sini menyimpan cerita di kepalanya masing-masing,” ucap Hanna sambil menatap orang-orang yang keluar-masuk kereta.

“Aku melihat mereka membawa barang yang begitu berat, melebihi tas dan koper mereka, Mas.” Hanna mulai menitikkan air mata.

Faqih memalingkan wajah, ia tak sudi melihat air mata Hanna jatuh.

“Dilarang menangis di Stasiun, Hanna!”  ucap Faqih, seperti bercanda.

“Lalu buat apa stasiun jadi tempat  perpisahan? Bukannya setiap perpisahan selalu akrab dengan air mata, Mas?!”

Faqih diam, ia terbungkam oleh perkataan Hanna.

“Setiap hendak tidur aku selalu  membayangkan Jakarta berdampingan dengan Jogja. Sejauh Malioboro dengan Stasiun Lempuyangan. Pagi-pagi setelah matahari naik sepenggalan aku berlari-lari kecil ke rumahmu. Saat keringat tubuhku membasahi baju, aku melihatmu duduk di beranda rumah. Kau tersenyum melihatku, dan aku kegirangan mendapatimu berwajah ceria sepagi itu.” Tangis Hanna menghentikan perkataannya.

“Lalu kita bersepakat berlari-lari kecil menuju Malioboro dan menikmati aktivitas orang-orang di pagi hari. Tapi itu hanya khayalanku, Mas. Jogja dan Jakarta tidaklah mungkin sedekat Malioboro dengan Stasiun Lempuyangan.” Hanna tak lagi kuasa melanjutkan perkataannya. Ia menahan tangis. Tapi air matanya tak bisa dibendung.

“Dilarang menangis di stasiun, Hanna!” Mata Faqih memerah. Ia tampak menahan tangis.

Hanna hendak memeluk Faqih. Melihat Faqih memalingkan wajah, Hanna mengurungkan niat.

“Apakah agamamu mengerti tentang kerinduan seorang perempuan, Mas?”

“Kurasa kau sudah paham dengan jalan yang kupilih. Tidak mungkin kita memperdebatkan itu disaat-saat seperti ini.”

“Setidaknya ada satu aturan yang kamu langgar untuk menghidupkan harapan perempuan yang akan sepi di tengah keramaian kota ini, Mas.”

“Hanna..!” ucap Faqih dengan suara agak tinggi. ”Memilihmu menjadi kekasihku sudah melanggar aturan agamaku. Menemanimu menunggu kereta membawamu ke Jakarta juga telah melanggar aturan agamaku. Kumohon kau paham, Hanna!” Suara Faqih terdengar sangat pilu.

“Kenapa kita dicipta bedah agama, jika Tuhan menghendaki kita saling mencintai?” Tangis Hanna pecah.

“Ini Stasiun, Hanna, dilarang menangis!” Ucap Faqih sambil memalingkan wajah, ”Kuharap kita sama-sama mengerti.”

”Aku selalu membayangkan, Mas, kamu melepasku dengan pelukan dan ciuman. Lalu dengan air mata berurai kita perlahan menjauh. Dan aku mengingat itu kembali saat berkunjung ke tempat ini.”

“Tapi aku tahu kamu tidak akan melakukan itu, Mas. Karena agamamu tidak membolehkan.” ucap Hanna dihiasi isak tangis.

***

Orang-orang berlalu-lalang, pergi dan kembali. Wajah lusuh berbaur dengan wajah ceria. Kebahagiaan dan kesedihan bertemu, seakan saling pandang, saling berbagi cerita dalam tatapan. Stasiun adalah gambar dari dunia yang luas, gumam Faqih.

Rel berdenyit, kerikil berhamburan terhempas angin kereta yang lewat. Faqih telah mencatat dua puluh tujuh orang yang menangis ditinggal kekasihnya.

“Wah, rupanya sudah banyak orang yang menangis!” suara Pak Sipa yang bernada canda mengejutkan Faqih.

Faqih membalasnya dengan senyuman. Pak Sipa pun tersenyum. Jauh di lubuk hatinya ada perih yang menyayat-nyayat.

Di antara  sekian banyak orang di Stasiun Lempuyangan hanya Pak Sipa tahu tentang kisah Faqih yang suka mencatat orang-orang menangis.

Dua tahun yang lalu, saat Pak Sipa menjadi satpam baru di Stasiun Lempuyangan kerap mengamati tingkah Faqih. Rasa penasaran Pak Sipa bermula saat melihat  Faqih membawa buku kecil dan mencatat  orang menangis.

Waktu itu Faqih sedang duduk di bangku reyot. Warnanya mengelupas, kayunya sudah banyak dimakan rayap. Mungkin untuk ukuran orang normal bangku itu tak layak pakai. Setelah menyapa dan mendengar cerita Faqih  tentang Hanna, Pak Sipa mendapat penjelasan, yang menurutnya begitu kurang masuk akal, “Bagi kenangan tempat selalu menjadi indah, Pak.”

Faqih menjelaskan, “Di bangku ini,  aku melepas Hanna, menyesal aku tidak memeluknya. Aku tidak sadar itu adalah pertemuan terakhir. Aku selalu yakin ia akan kembali dan menikah denganku. Tapi aku salah,  cinta  dia kepadaku dan cintaku kepadanya tidak membuat kita berpaling dari cinta pada agama.”

Pak Sipa manggut-manggut, matanya berair,  perasaannya berkecamuk. Dengan pancaran mata simpati ia duduk di kursus samping Faqih. Ia mengelus-elus pundaknya, seperti adegan film seorang bapak yang menenangkan tangis anaknya.

“Pak,” ucap Faqih dengan suara kelam, seakan datang dari perih masa lalu. ”Kursi yang kau duduki itu ada bekas tubuh Hanna. Begitu kejam dunia ini, merenggut ia dari pelukan seorang lelaki yang cinta pada agamanya.”

Pak Sipa  berusaha paham terhadap perkataan Faqih.

“Kering badan ini, Pak, hitam dunia ini. Selalu terbayang langkah Hanna saat memasuki kereta, selalu terbayang keangkuhanku untuk tidak memeluknya. Dan sekarang segala keangkuhan dan ketaatanku pada agama membuatku menjadi pohon kering tanpa buah. Begitu menyedihkan hidup ini, Pak.” Suara Faqih terdengar letih.

Lidah Pak Sipa keluh, tenggorokannya kering, perasaannya berkecamuk, seakan terjadi perang dalam jiwanya. Dilihatnya Faqih lekat-lekat. Inci demi inci tubuhnya ia amati. Semuda ini kau telah menanggung beratnya dunia, gumamnya.

Faqih lekat menatap Pak Sipa yang termenung. Ia membiarkan lelaki paruh baya itu menikmati kecamuk perasaannya. Dalam hati, suara yang dulu pernah terdengar saat ibunya gantung diri sebab tak tahan oleh gunjingan orang atas nasib Faqih yang  jadi gelandangan di Stasiun Lempuyangan, kini pun mencuat kembali.

“Betapa kesedihanku selalu membuat dunia berduka.” Gumam Faqih

Lekas ia berjarak dengan Pak Sipa. Hari-hari ia lewati dengan kesibukan mencatat tiap orang yang menangis. Ia mengunci diri, tak lagi mau kenal dengan siapa pun. Tak lagi berharap apa pun. Ia hanya ingin suatu hari melihat sepasang kekasih yang menangis di stasiun karena ditinggal agamanya.

Yogyakarta, 2020

 

Fatah Malangare, Lurah Komunitas Kutub Yogyakarta juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Menunggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

004938