Uniknya Gerakan Santri dan Muslim Kampung di Pilkada

Ahmad Shofiyuddin Ichsan, M.A., M.Pd

Tulisan ini merupakan refleksi kecil setelah melihat dan merasakan hingar-bingar pesta demokrasi Pilkada akhir tahun 2020 lalu, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah uniknya gerakan santri dan muslim kampung di Pilkada kota pelajar Jogja.

Alasan menulis ini bukan lantas sebagai pakar politik ataupun ahli dalam tata negara. Tentu bukan. Tulisan ini hanya bagian kegelisahan akademik pribadi sebagai dosen Studi Islam di lingkungan perguruan tinggi Islam di Yogyakarta. Sebagaimana pengalaman penulis melakukan penelitian terkait gerakan sosial keagamaan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah sejak 2013, Pilkada Jogja ini menarik untuk dilihat dari kacamata ke arah sana.

Melihat hasil akhir penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU), terlihat hasil kemenangan di tiga Kabupaten di wilayah Yogyakarta: Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. Kemenangan yang mengejutkan terlihat di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Mengapa mengejutkan? Karena ada keunikan di sana. Sebuah gerakan santri dan muslim kampung di dua wilayah ini terlihat nyata dan masif, sehingga perolehan suaranya tertinggi dan menjadi sejarah baru di daerahnya masing-masing.

Juara

Kemenangan tersebut jika dipahami dalam konteks gerakan sosial, dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini, kelompok santri dan muslim kampung di Jogja terlihat mengalami kegelisahan dan kegusaran terhadap realitas kehidupan mereka. Banyak kebijakan publik dari berbagai sektor belum (baca: tidak) berpihak kepada mereka. Masih banyak kalangan menganggap bahwa santri dan muslim kampung tidak memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan Jogja. Singkat kata, eksistensi mereka selama ini masih diragukan. Kegelisahan demi kegelisahan ini mengakibatkan adanya konstruksi alam bawah sadar mereka, memformalisasikan kepingan demi kepingan asa untuk berubah, dan melembagakannya dalam gerakan sosial bersama. Titik ini, bagi Tarrrow, merupakan bagian gerakan dalam sub teori“contentius collective action”.

Santri dan muslim kampung sadar bahwa Yogyakarta adalah kota pelajar Indonesia, yang di dalam sejarahnya juga telah memiliki basis keislaman yang sedikit berbeda dengan mereka. Tetapi justru atas nama payung Yogyakarta, rumah kenyamanan dan keadilan bersama harus terus disuarakan. Walaupun selama ini mereka diam dan menikmati dinamika, tetapi diamnya itu tidaklah pasif. Mereka cenderung terus melakukan perubahan (walau sekecil apa pun itu). Di titik perubahan itulah, ada kesadaran. Sadar bahwa mereka itu sebenarnya besar dan memiliki banyak basis pengikut. Sadar bahwa mereka memiliki kekuatan, sehingga layak dan mestinya (sesekali) ditunjukkan.

Kesadaran kolektif yang membentuk framing ini sebenarnya sudah terlihat pada pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2019 yang secara mengejutkan menempatkan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta sebagai runner up (posisi kedua) di bawah Sang Ratu Yogyakarta, GKR Hemas. Sebuah kejutan nasional di mana saat itu beliau sebagai ‘pendatang baru’ dan notabene tidak memiliki latar belakang politikus apa pun. Kejutan itu akan menjadi rasional, karena di balik itu ada kekuatan kesadaran bersama santri dan muslim kampung untuk bergerak dan menggerakkan.

Mobilisasi

Begitu pun di Pilkada 2020 ini, situasi itu kembali terjadi. Framing itu masih kuat. Mobilisasi mereka tak terbendung. Mereka tidak banyak berbicara di khalayak umum, tetapi gerakan senyap mereka meyakinkan. Seperti pepatah Jawa, “ora brebegi, neng ngrampungi”. Tidak banyak berbicara, tapi beraksi nyata. Walhasil, di Kabupaten Bantul, calon dari santri akhirnya berkuasa. Begitu pun di Kabupaten Gunungkidul, calon yang didukung penuh kalangan santri dan muslim kampung yang memenangkannya, walau selisihnya hanya tipis di atas  calon lain (yang bergelar Profesor Doktor itu). Artinya, siapa pun lawannya, baik mulai dari calon incumbent sampai bergelar akademik tertinggi pun akan dibuat keteteran akibat kekuatan gerakan mereka. Memang unik, tapi ini sebuah realitas yang tidak bisa terbantahkan saat ini.

Baca Juga: Atheis dan Agnostik Beragama Semakin Menggila

Pilkada adalah pesta demokrasi. Pesta bagi masyarakat, apapun suku, agama, ras, dan golongannya. Pilkada bukanlah momentum permusuhan, yang mengagungkan satu dan menjatuhkan lainnya. Sepertinya hal ini sudah disadari bersama, termasuk para santri dan muslim kampung ini. Melihat hasil gerakan yang mengejutkan ini, setidaknya mereka memiliki simbol pesan penting bagi semua. Yakni, walaupun di Kota Pelajar Jogja, kelompok santri dan muslim kampung selalu ada dan bahkan eksistensinya tampak terlihat sempurna. Tujuan basis kekuatan ini bukan tentang superioritas ataupun inferioritas, tetapi lebih kepada menyadari kekuatan diri untuk bersama-sama meningkatkan kemaslahatan umat, baik dalam sisi pendidikan, sosial, ekonomi, politik, budaya, maupun keagamaannya. Semua demi menjaga Jogja sebagai rumah bersama yang bermartabat, aman, tenteram, dan terus istimewa.

 

Penulis adalah Dosen Islamic Studies IIQ An Nur Yogyakarta.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

004938